Senin, 18 Januari 2010

Asam Lemak Omega 9 dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Lemak/minyak merupakan salah satu jenis makanan yang banyak digunakan untuk diet sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh keuntungan lemak/minyak yang telah dirasakan oleh segenap lapisan orang, yaitu untuk meningkatkan cita rasa, memperbaiki tekstur, dan pembawa flavor, disamping fungsi fisiologis dan sebagai sumber enerji.

Beberapa hal yang mempengaruhi sifat-sifat minyak adalah asam lemak penyusunnya, yaitu asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SFA) dan asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid/UFA), yang terdiri atas mono-unsaturated fatty acid (MUFA) dan poly-unsaturated fatty acid (PUFA) atau high unsaturated fatty acid. Para ahli biokimia dan ahli gizi lebih mengenalnya dengan sebutan asam lemak tak jenuh Omega 3, Omega 6 dan Omega 9.

Makan (diet sehat) erat kaitannya dengan diet jantung sehat. Hal ini disebabkan oleh isu penyakit jantung koroner (PJK) yang merupakan salah satu penyebab kematian peringkat atas di Indonesia. Penyakit jantung banyak kaitannya dengan pangan yang kita konsumsi. Makanan yang sangat erat hubungnnya dengan PJK antara lain serat makanan, protein dan lemak/minyak. Di antara ketiga faktor tersebut, konsumsi minyak dan lemak merupakan faktor paling dominan dan mendapat perhatian paling luas.

Studi pengaruh konsumsi minyak/lemak terhadap PJK sudah dimulai pada pertengahan 1950-an oleh Ahren, Kinsell, Keys dan Hegsted serta formula Keys yang disempurnakan oleh Hegsted. Sampai pertengahan 1980-an kebanyakan penelitian tentang saturated fat menyatakan terjadinya peningkatan kolesterol. Sebenarnya hal ini sangat bergantung pada panjang rantai karbon, terutama C12:0 dan C14:0, yang berasal dari bahan bakunya. Sebaliknya, PUFA mempunyai pengaruh yang dapat menurunkan kolesterol sedangkan MUFA pada saat itu belum mendapat perhatian khusus.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan ternyata mengkonsumsi PUFA (Omega 6) yang berlebihan tanpa diimbangi konsumsi Omega 3 memang dapat menurunkan LDL kolesterol, akan tetapi HDL kolesterol juga dilaporkan ikut mengalami penurunan. Selain itu, keseimbangan antara Omega 3 dan Omega 6 terganggu, menyebabkan darah mudah menggumpal. Kedua hal ini tidak menguntungkan karena rasio LDL/HDL (Indeks PJK) yang menurun dan mudahnya darah menggumpal tidak dapat mencegah terjadinya PJK, bahkan dapat memicu terjadinya PJK.

Pada 1985 Grundy dan 1987 Mensink menyatakan bahwa MUFA dapat menurunkan kolesterol (LDL-kolesterol) sehingga MUFA mulai mendapat perhatian. Salah satu jenis MUFA adalah Omega 9 (Oleat) yang berdasarkan penelitian pada 1992, 1998, 1999 dan 2000, menyimpulkan bahwa Omega 9 memiliki daya perlindungan yang mampu menurunkan LDL kolesterol darah, meningkatkan HDL kolesterol yang lebih besar dibanding Omega 3 dan Omega 6, lebih stabil dibandingkan dengan PUFA. Hal ini dapat dilihat dari masyarakat yang hidup di kawasan Mediteranian yang jarang ditemukan penderita jantung koroner karena tingginya konsumsi Omega 9 dan Omega 3. Sedangkan di kawasan barat (AS dan Eropa) konsumsi lemaknya memiliki rasio 10:1 (Omega 6, Omega 3), yang dianggap tidak sehat.

Berdasarkan penelitian dan kajian epidemilogi di atas, mulai terjadi perubahan pandangan dari konsumsi minyak kaya Omega 6 dan Omega 3 dengan kembali mengkonsumsi minyak yang berimbang yaitu 30% saturated fat, 40% MUFA (Omega 9) dan 30% PUFA (Omega 6 dan Omega 3).

Minyak sawit memiliki karakteristik asam lemak utama penyusunnya terdiri atas 35 - 40% asam palmitat, 38 - 40% oleat dan 6 - 10% asam linolenat serta kandungan mikronutriennya seperti karitenoid, tokoferol, tokotrienol dan fitosterol. Di samping itu keunggulan minyak sawit sebagai minyak makan adalah tidak perlu dilakukan parsial hidrogenasi untuk pembuatan margarin dan minyak goreng (deep frying fat), trans-fatty acid rendah, dan unit cost murah. Klaim produk minyak sawit sebagai produk sehat telah banyak dilakukan penelitian mendasar, sehingga klaim unggulannya mempunyai dasar yang kuat. Meskipun minyak sawit mengandung MUFA (Omega 9) cukup tinggi, kandungan asam lemak jenuhnya (palmitat) juga tinggi yaitu 40%. Namun, asam palmitat yang ada dalam minyak sawit mempunyai nilai positif karena dapat menurunkan kolesterol LDL.

Sebagai penutup, dapat disampaikan bahwa asam lemak Omega 9 dapat mencegah PJK (teruji secara laboratoris dan epidemilogis), di mana penelitian yang dilakukan selalu menggunakan minyak dengan kadar asam lemak jenuh yang rendah (sekitar 5%). Ada hasil riset yang menyatakan bahwa Omega 6 dalam bentuk tunggal memiliki sifat negatif karena berkaitan dengan peningkatan produksi eicosanoids (stimulan pertumbuhan tumor pada binatang percobaan). Namun dengan adanya Omega 9 dan Omega 3, dalam proporsi yang sesuai akan memiliki potensi memblokir produk senyawa eicosanoids tersebut, sehingga lagi-lagi peran Omega 9 dapat mencegah stimulasi negatif Omega 6.


Sumber :
Prof. DR. Ir. Tien R Muchtadi MS
Media Indonesia, 29 November 2000, dalam :
http://www.bimoli.com/omega9b.htm

Ada Apa Dengan Lemak Dan Tubuh?

Kita pasti sudah terlalu sering mendengar dan membaca, bagaimana para ahli gizi bercerita bahwa setiap makanan yang kita makan akan memengaruhi kesehatan tubuh. Apalagi soal lemak, bagaimana nutrisi ini bisa menjadi penyelamat bagi tubuh namun sangat mungkin juga membuat tubuh kita rusak, khususnya jantung.

Alhasil para ahli gizi pun memberi istilah untuk membantu kita lebih mudah memahami peranan lemak bagi kita. Yaitu, lemak baik dan lemak jahat. Lemak baik adalah lemak-lemak yang dalam sandiwara tubuh memainkan peran protagonis alias penyelamat otak. Sedangkan lemak jahat adalah sang antagonis yang akan merusak jantung, si pengatur “detak” kehidupan.

Rumus dasarnya dalam mengonsumsi lemak adalah sama dengan cara kita mensuplai nutrisi-nutrisi lain ke dalam tubuh, tidak boleh berlebihan. Jika kita makan lemak jahat tanpa perhitungan maka akan menimbulkan efek domino bagi kesehatan. Diawali dengan kadar kolesterol yang tinggi yang kemudian diikuti dengan pembentukan plak-plak pada saluran pembuluh darah.

Ukuran yang aman bagi tubuh adalah konsumsi lemak 20-30 persen dari total kalori dalam sehari. Takaran rata-ratanya 45-75 gram lemak per hari untuk perempuan, tapi ini masih harus disesuaikan dengan usia, berat badan, dan lingkar pinggang. Dan idealnya, lemak jenuh atau lemak jahat yang mampu ditoleransi tubuh adalah 7 persen dari takaran rata-rata.

Setelah mengetahui takaran yang aman, pilihlah sumber lemak yang baik bagi tubuh. Lemak yang baik ini diberi nama mono dan polysaturated yang menghasilkan omega-3 dan omega-6. Makanan yang kaya akan ini adalah ikan salmon. Akan lebih baik jika kita memasukkan lebih banyak ikan dalam menu harian ketimbang daging, sebab ikan kaya akan lemak-lemak baik.

Sumber :
Rut Avianati/ty-Siagian Priska/AS/
http://www.preventionindonesia.com dalam :
http://vibizlife.com/health_details.php?pg=health&id=16933
2 Januari 2010

Tumpukan Lemak di Pinggul Ternyata Menguntungkan

Kelebihan lemak di pinggul biasanya menjadi hal yang menyebalkan. Ternyata menurut penelitian, kelebihan lemak itu bisa membantu menyembuhkan gangguan metabolisme.

Saat berdiet, kelebihan lemak di pinggul, bokong dan paha adalah yang paling utama untuk dihilangkan. Padahal, kelebihan lemak itu membuat tubuh lebih sehat.

Sebuah penelitian di Oxford menyatakan bahwa pembakaran lemak di bagian-bagian tadi secara cepat akan menimbulkan gangguan kesehatan. Dilansir dari Foxnews, Rabu (13/1/2010).

Saat lemak-lemak itu terbakar dengan cepat, akan banyak racun yang dikeluarkan. Racun tadi akan berpengaruh pada gula darah.

Penyakit seperti diabetes serta gangguan hati akan menjadi risikonya. Oleh karena itu, ada baiknya untuk mengkonsultasikan diet Anda pada ahli gizi. Jika ingin berolahraga, tak ada salahnya untuk menggunakan seorang personal trainer. (kee/kee)

Sumber :
Amelia Ayu Kinanti - detikhot
http://www.detikhot.com/read/2010/01/13/183616/1277866/227/tumpukan-lemak-di-pinggul-ternyata-menguntungkan
13 Januari 2010

Lemak Baik Vs. Lemak Jahat

ANDA pastinya sudah sering mendengar mengenai gaya hidup sehat dengan diet rendah lemak. Hal ini tidak berarti Anda harus menghindari lemak sepenuhnya. Bagaimanapun, tubuh kita tetap memerlukan lemak. Lagipula, tidak semua lemak itu buruk. Jadi, yang perlu Anda lakukan adalah cerdas dalam memilih jenis lemak yang baik.

Sebagian besar makanan mengandung berbagai jenis lemak, termasuk lemak jenuh, lemak tidak jenuh ganda, lemak tidak jenuh tunggal dan lemak trans. Di antara lemak ini, ada yang lebih baik dibandingkan yang lain. Untuk mengenal lebih jauh, berikut uraian mengenai lemak yang sehat dan yang tidak sehat.

Lemak sehat

Jika ingin memilih lemak, pilihan terbaik adalah lemak-lemak yang tidak jenuh, baik lemak tidak jenuh tunggal maupun ganda. Jenis lemak ini, bila digunakan untuk menggantikan jenis lemak lainnya, bisa menurunkan risiko penyakit jantung dengan cara menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat LDL dalam darah.

Asam lemak omega-3, salah satu jenis lemak tidak jenuh ganda, sangat bermanfaat untuk kesehatan jantung. Omega-3 ini terbukti bisa menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Selain itu, lemak ini juga berfungsi melawan detak jantung yang tidak normal serta membantu menurunkan tekanan darah.

Untuk membantu Anda memilih makanan, berikut merupakan jenis dan sumber lemak sehat:

Lemak tidak jenuh tunggal. Bisa diperoleh dari olive oil, minyak kacang, canola oil, alpukat, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Lemak tidak jenuh ganda. Bisa diperoleh dari minyak sayur, kedelai, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Asam lemak omega-3. Bisa diperoleh dari ikan seperti salmon dan mackerel, biji rami, minyak rami dan kenari.

Lemak berbahaya

Lemak jenuh dan lemak trans merupakan jenis lemak yang kurang sehat. Lemak ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dengan cara meningkatkan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat LDL. Kolesterol yang kita peroleh dari makanan pada dasarnya tidak sama dengan lemak, tapi kolesterol ini ditemukan pada makanan hewani. Asupan kolesterol dari diet ini akan meningkatkan kadar kolesterol. Tapi, peningkatan ini tidak terlalu berpengaruh dibandingkan dengan lemak jenuh dan lemak trans.

Berikut jenis lemak yang berbahaya beserta sumbernya:

Lemak jenuh. Terdapat pada produk-produk hewan (seperti daging, unggas, makanan laut, telur, produk-produk susu, serta mentega) dan minyak kelapa.

Lemak trans. Terdapat pada minyak sayur yang dihidrogenasi, produk-produk bakaran (seperti crackers dan kue), serta makanan yang digoreng.

Kolesterol dari makanan. Terdapat pada produk-produk hewan (seperti daging, unggas, makanan laut, telur, produk-produk susu, serta mentega).


Batasan asupan lemak harian

Berdasarkan rekomendasi dari U.S. Department of Agriculture (USDA) dan the Department of Health and Human Services (HHS), seperti yang dikutip situs mayo clinic, asupan lemak tidak boleh melebihi 35% dari total kalori harian Anda. Artinya, jika Anda mengikuti diet 1800 kalori dalam sehari, asupan lemak Anda tidak boleh lebih dari 70 gram/hari.(Caranya: kalikan 1.800 dengan 0.35 untuk mendapatkan 630 kalori, dan dibagi dengan 9, jumlah kalori per gram lemak, untuk mendapatkan 70 gram total lemak). Anda juga harus ingat, ini merupakan batasan maksimum. Selain itu, sebagian besar dari lemak ini sebaiknya berasal dari sumber lemak tidak jenuh tunggal dan ganda. Menurut USDA dan HHS, batas lemak jenuh sebaiknya kurang dari 10% dari total kalori harian dan kolesterol kurang dari 300 miligram sehari.

Tip memilih lemak terbaik

Batasi asupan lemak dalam diet Anda tapi jangan coba untuk menghilangkan lemak sepenuhnya. Fokuslah dalam mengurangi makanan yang kaya lemak jenuh, lemak trans dan kolesterol. Sebaliknya pilihlah lebih banyak makanan yang mengandung lemak-lemak tidak jenuh. Anda bisa mempertimbangkan cara berikut saat memilih:

1. Lebih baik mengganti mentega dengan olive oil
2. Gunakan olive oil saat membuat salad tapi ada baiknya menggunakan canola oil saat memanggang.
3. Lebih baik memilih segenggam penuh kacang sebagai snack daripada kripik kentang atau crackers hasil olahan lainnya.
4. Lebih baik menambahkan alpukat ke dalam sandwich Anda dibandingkan keju.
5. Lebih baik mengonsumsi ikan seperti salmon dan mackerel yang kaya lemak tidak jenuh tunggal dan omega-3, dibandingkan daging.


Sumber :
Ikarowina Tarigan
http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2009/05/31/1230/3/Lemak-Baik-Vs.-Lemak-Jahat
31 Mei 2009

Risiko Akibat Sedot Lemak

Sedot lemak atau liposuction merupakan cara mengambil lemak yang berlebihan di dalam tubuh. Cara menyedotnya, yaitu dengan membuat lubang kecil pada kulit dan mengeluarkan lemak tersebut dengan tenaga vakum (sedot). Pasien yang menjalani liposuction harus dibius lokal terlebih dahulu.


Tujuan utama dari liposuction adalah body contouring, yakni membuang lemak pada bagian tubuh yang tidak diinginkan sehingga bentuk tubuh secara kosmetis menjadi lebih baik. Liposuction umumnya digunakan pada pengobatan kegemukan untuk mengurangi lemak pada penderita. Diharapkan?sedot lemak?dapat mengurangi penyakit-penyakit sistemis akibat kegemukan dan membuat kualitas hidup penderita menjadi lebih baik.


Harus diingat bahwa banyak persyaratan bagi pasien yang akan menjalani liposuction. Pasien dengan gangguan perdarahan, anemia, dan gangguan jantung serta paru-paru?tidak dianjurkan untuk menjalani liposuction. Pasien yang mengonsumsi aspirin pun harus menghentikan pemakaian obat itu sekitar satu sampai dua minggu sebelum menjalani pembedahan.


Pada umumnya komplikasi akibat bedah liposuction adalah perdarahan, infeksi, dan tromboembolisma. Ada juga komplikasi lainnya seperti kulit menjadi tidak rata, hematoma, seroma, fat emboli, intravenous fluid overload, dan sebagainya. Contohnya yaitu terjadi penggumpalan pada lengan yang menyebabkan kulit menjadi tidak rata. Karena kulit yang tidak rata, dokter pun kemudian melakukan pembuangan kulit sehingga mengakibatkan ada bekas luka akibat pembuangan kulit yang tidak semestinya. Pada perut pun banyak dijumpai pasien dengan kulit perut menjadi terlipat atau menggumpal sehingga terlihat tidak menarik.

Sumber :
http://www.dechacare.com/Risiko-Akibat-Sedot-Lemak-I31.html
25 November 2007

Risiko Akibat Sedot Lemak

Sedot lemak atau liposuction merupakan cara mengambil lemak yang berlebihan di dalam tubuh. Cara menyedotnya, yaitu dengan membuat lubang kecil pada kulit dan mengeluarkan lemak tersebut dengan tenaga vakum (sedot). Pasien yang menjalani liposuction harus dibius lokal terlebih dahulu.


Tujuan utama dari liposuction adalah body contouring, yakni membuang lemak pada bagian tubuh yang tidak diinginkan sehingga bentuk tubuh secara kosmetis menjadi lebih baik. Liposuction umumnya digunakan pada pengobatan kegemukan untuk mengurangi lemak pada penderita. Diharapkan?sedot lemak?dapat mengurangi penyakit-penyakit sistemis akibat kegemukan dan membuat kualitas hidup penderita menjadi lebih baik.


Harus diingat bahwa banyak persyaratan bagi pasien yang akan menjalani liposuction. Pasien dengan gangguan perdarahan, anemia, dan gangguan jantung serta paru-paru?tidak dianjurkan untuk menjalani liposuction. Pasien yang mengonsumsi aspirin pun harus menghentikan pemakaian obat itu sekitar satu sampai dua minggu sebelum menjalani pembedahan.


Pada umumnya komplikasi akibat bedah liposuction adalah perdarahan, infeksi, dan tromboembolisma. Ada juga komplikasi lainnya seperti kulit menjadi tidak rata, hematoma, seroma, fat emboli, intravenous fluid overload, dan sebagainya. Contohnya yaitu terjadi penggumpalan pada lengan yang menyebabkan kulit menjadi tidak rata. Karena kulit yang tidak rata, dokter pun kemudian melakukan pembuangan kulit sehingga mengakibatkan ada bekas luka akibat pembuangan kulit yang tidak semestinya. Pada perut pun banyak dijumpai pasien dengan kulit perut menjadi terlipat atau menggumpal sehingga terlihat tidak menarik.

Sumber :
http://www.dechacare.com/Risiko-Akibat-Sedot-Lemak-I31.html
25 November 2007

Triglyceride Mungkin Jadi Lemak Darah

Buat orang-orang yang mengikuti perkembangan lemak darah mereka, triglyceride mungkin menjadi lemak baru yang perlu diawasi, kata beberapa peneliti.


Suatu studi awal pekan ini menemukan bahwa persentase orang dewasa AS dengan triglyceride tinggi telah berlipat-ganda selama tiga dasawarsa terakhir, yang kelihatannya disebabkan oleh peningkatan angka orang yang kegemukan.

Dalam studi lain, yang terbesar, beberapa peneliti Denmark melaporkan pemeriksaan darah yang tak mengharuskan orang berpuasa memperlihatkan hubungan kuat antara kadar triglyceride tinggi dan resiko stroke akibat penggumpalan darah.

Secara keseluruhan, studi itu menunjukkan perlunya bagi penanganan secara lebih baik triglyceride, lemak darah yang secara khusus telah berada pada lapis kedua low-density lipoprotein atau LDL, yang dikenal sebagai kolesterol "jahat" karena perannya dalam mengakibatkan serangan jantung dan stroke.

Obat penurun kolesterol yang dikenal sebagai "statin" membantu mengurangi LDL, tapi obat itu seringkali tak menangani tingkat tinggi triglyceride (lemak darah yang diperoleh dari lemak yang dikonsumsi orang dan lemak di dalam tubuh).

Triglyceride adalah faktor resiko terpisah bagi sakit jantung, penyebab utama kematian di Amerika Serikat.

Triglyceride dan lemak lain secara khusus diukur setelah orang berpuasa selama delapan sampai 12 jam.

Dalam studi di Denmark, yang disiarkan di dalam Journal of the American Medical Association, Borge Noerdestgaard dari Copenhagen University Hospital mempelajari tingkat triglyceride tanpa orang berpuasa untuk melihat seberapa baik mereka dapat meramalkan resiko stroke.

Misalnya, orang yang berusia 55 tahun atau lebih dengan tingkat triglyceride tertinggi (di atas 443 miligram per deciliter) memiliki 17% resiko stroke dalam waktu 10 tahun.

Sementara itu orang dengan kadar triglyceride paling rendah, 89% per deciliter, memiliki resiko sebesar 3% untuk terserang stroke.

"Triglyceride orang yang tak berpuasa bahkan mungkin lebih baik dibandingkan dengan triglyceride orang yang berpuasa dalam meramalkan resiko," kata Nordestgaard.

Ia mengatakan pemeriksaan tanpa puasa jauh lebih meyakinkan bagi pasien, suatu faktor yang mungkin membuat lebih banyak orang mau diperiksa.

Berlipat

Satu studi AS awal November, dalam suatu pertemuan American Heart Association di New Orleans, menemukan bahwa kandungan triglyceride meningkat.

Studi oleh survei kesehatan pemerintah selama 30 tahun tersebut mendapati bahwa meskipun kadar LDL telah turun, persentase orang dewasa dengan kandungan tinggi triglyceride telah berlipat ganda.

"Saat LDL diserap oleh penggunaan statin, triglyceride muncul sebagai faktor resiko baru lemak darah," kata Dr. Jerome Cohen dari St. Louis University School of Medicine di Missouri, yang mengerjakan studi itu, dalam satu wawancara telefon.

Ia mengatakan studi tersebut memperlihatkan peningkatan dramatis jumlah orang Amerika bertubuh gemuk mungkin membantu dalam menjelaskan peningkatan itu.

Dr. Irene Katzan dari Cleveland Clinic di Ohio, yang tak terlibat dalam kedua studi tersebut, mengatakan studi itu dan yang lain mencerminkan peningkatan pusat perhatian pada pengendalian triglyceride (yang telah menjadi "salah satu saudara di dunia lemak").

"Akhirnya lemak itu mendapat perhatian yang semestinya," katanya. (kpl/cax)

Sumber :
http://www.kapanlagi.com/a/triglyceride-mungkin-jadi-lemak-darah.html
30 September 2009